HUKUM & KRIMINALITAS

Polisi Berhasil Ungkap Kasus Pembunuhan Siswa Magang

75
×

Polisi Berhasil Ungkap Kasus Pembunuhan Siswa Magang

Sebarkan artikel ini
Page Visited: 285
0 0
Read Time:3 Minute, 45 Second

SAROLANGUN-Suararakyatnews.com,

Aparat Kepolisian Polres Sarolangun berhasil mengungkap pelaku pembunuhan siswa magang asal SMK Muhammadiyah Kota Jambi, bernama Ahmad Sabri (18) yang sedang magang di perusahaan tambang Glora Geoservice Indonesia (GGI) kontraktor PT RAP pengeboran di IUP PT.HK bergerak di bidang pertambangan bara di Desa Lubuk Napal, Kecamatan Pauh Kabupaten Sarolangun

Korban yang sebelum diberitakan hilang pada tanggal 04 Oktober 2022 yang lalu, dan setelah dilakukan pencarian selama delapan hari, tim gabungan menemukan tengkorak kepala, tulang kaki kiri, tulang punggung yang sudah hancur, sepasang sepatu, Tas selempang warna hitam, Tulang kaki kanan, Rusuk berlepasan, Celana panjang warna coklat, KTP, Uang tunai sebesar 150 ribu, Handphone dan GPS.

Dari penemuan tersebut, polres Sarolangun melakukan penyelidikan hingga kemudian berhasil mengungkap bahwa Ahmad Sabri siswa magang tersebut merupakan korban pembunuhan.

Kapolres Sarolangun AKBP Anggun Cahyono, Sik dalam keterangan pers, Senin (31/10/2022), mengatakan bahwa ada tiga Pelaku yang diamankan oleh tim opsnal Satreskrim polres Sarolangun, berdasarkan laporan polisi berinisial SY bin MK (49) karyawan swasta pada 12 Oktober 2022.

Ketiga pelaku tersebut, adalah AN alias MK (64) sebagai pelaku utama dan dua orang pelaku pembantu yang ikut serta berinisial PH (25) dan SH (25) yang ketiganya adalah warga Desa Mandiangin Tuo, Kecamatan Mandiangin.

β€œAda tiga pelaku yang kita amankan dalam kasus pembunuhan terhadap korban yang merupakan siswa magang,” katanya didampingi Waka Polres Kompol Sandy Muttaqin dan Kasat Reskrim AKP Rendie Rienaldy.

Kapolres menjelaskan bahwa kejadian pembunuhan tersebut terjadi pada Rabu 5 Oktober 2022 sekitar pukul 11.30 wib di desa lubuk napal, bahwa pelapor mendapatkan laporan bahwa anak magang telah hilang di PT GGI Desa Lubuk Napal Kecamatan Pauh. kemudian pelapor mengajak keluarga korban menuju polsek Pauh untuk memastikan hilangnya anak tersebut.

Kemudian dilakukan pencarian anak pelapor bersama tim Basarnas, polri dan TNI, dan pada Rabu tanggal 12 Oktober menemukan mayat korban pada pukul 07.00 Wib, dan kemudian tim opsnal melalukan penggeledahan terhadap tiga unit pondok yang ada di sekitar lokasi penemuan mayat korban.

β€œLalu kemudian tim menggeledah pondok, tim menemukan tiga buah Kecepek di kamar AN alias MK, kemudian dilakukan penahanan. Dalam masa penahanan tersebut tanggal 25 Oktober 2022 mengakui bahwa yang bersangkutan telah melakukan pembunuhan as dengan kayu bulat,” katanya.

Pengakuan pelaku utama, bahwa dua pelaku PH dan SH membantu mengangkat mayat AS dan membuang ke Payo kecil di sekitar pondok.

β€œKemudian polres Sarolangun melakukan pra rekonstruksi dan para pelaku menunjukkan TKP dan kayu yang digunakan untuk memukul korban,” kata Kapolres.

Dalam kasus ini, aparat kepolisian mengamankan barang bukti berupa kayu bulat yang digunakan pelaku untuk memukul korban, pakaian berwarna abu-abu yang digunakan as, tas milik korban, sepatu korban, pakaian korban, pakaian warna coklat.

β€œPara pelaku dikenakan sanksi sesuai Pasal 340 KUHP subsider pasal 338 KUHP lebih subsider pasal 351 ayat 3 KUHP entang pembunuhan perencana, dengan ancaman hukuman pidana mati atau pidana penjara seumur hidup atau paling lama 20 tahun penjara,” katanya.

Motip tersangka A.N melakukan pembunuhan menurutnya bahwa korban mengucapkan kata-kata yang kurang enak di dengar, sekitar pukul 11.00 wib saat hendak makan siang. lalu kemudian ia pergi ke belakang mau buang air, disinilah dia terpikir untuk membunuh korban.

β€œDi belakang, jarak lima meter dengan saya, kita bunuh be dak,” katanya saat mengulang kejadian itu.


Di tempat kejadian, ia bersama dua orang pelaku lainnya awalnya memukul korban dengan kayu bulat di bagian kepala, dan korban tidak ada perlawanan saat kejadian. Setelah korban tergeletak meninggal dunia, ia lalu meminta dua orang tersangka PH dan SH untuk membuang mayat dari lokasi kejadian.

β€œPembunuhan kami bertiga. Baru bertemu beberapa bulan yang lalu. Jarak TKP dengan penemuan mayat sekitar 600 meter,” katanya.


Dalam kasus pembunuhan tersebut, awalnya dirinya tidak mengakui hal tersebut. Karena aparat kepolisian polres Sarolangun melakukan penahanan dirinya karena kepemilikan senjata api rakitan atau Kecepek. Karena dengan berbagai isu yang terjadi, akhirnya ia tidak sanggup lagi menahan hal tersebut sehingga mengakui bahwa dialah yang melakukan pembunuhan terhadap korban Ahmad Sabri.


β€œSebab orang ini (dua orang pelaku lainnya) satupun tidak ada yang mengakui, jadi kesadaran saya mengakui itu. Saya tidak sanggup lagi dengan cerita ini itu yang terjadi di luar,” katanya.


Iapun meminta maaf kepada pihak keluarga korban, karena ia tidak menyangka akan terjadi hal demikian. Sebab, ia sudah tinggal di daerah desa lubuk napal ini selama 35 tahun lamanya dan tidak pernah melakukan tindak pidana kejahatan.


β€œSebelumnya saya memohon maaf kepada pihak keluarga korban, karena saya merasa bersalah dengan melakukan itu. Saya di situ sudah 35 tahun belum ada kejadian pembunuhan atau merampok yang saya lakukan, saya cuman ngurus kebun,” katanya (Aang)

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %
Advertisements
Advertisements

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Press Release Unit IV PPA,Kembali Ungkap Kasus Tindak Pidana Persetubuhan,Tim FRN Batanghari Sangat Apresiasi BATANGHARI- Sat Reskrim Polres Batanghari melaksanakan Press Release terkait Tindak Pidana setiap orang dilarang melakukan kekerasan, Ancaman kekerasan memaksa anak untuk melakukan persetubuhan dengannya atau dengan orang lain sebagaimana dalam Pasal 81 Ayat 3 Undang-undang RI Nomor 17 Tahun 2016 tentang penetapan pemerintah pengganti Undang-undang RI Nomor 1 Tahun 2016 tentang perubahan kedua atas UU Nomor 23 Tahun 2002 tentang perlindungan anak. Dalam Press Release disampaikan langsung oleh Kasat Reskrim Polres Batanghari AKP Husni Abda,S.I.K.,M.H beserta Kanit IV PPA IPDA Sianturi yang digelar di ruang kerja Kasat Reskrim Polres Batanghari, Selasa (16/07/2024). Dijelaskan Kasat Reskrim AKP Husni Abda dalam Press Release nya,” sosok tersangka berinisial MS (41) telah melakukan aksi bejatnya sejak dari Bunga (nama samaran) menginjak kelas enam (6) Sekolah Dasar (SD) di Tahun 2021. Sedangkan tempat kejadian berada dikamar Korban atau rumah tersangka MS tepatnya di Kelurahan Pasar Baru,” ungkap AKP Husni. AKP Husni juga memaparkan kronologis singkat kejadian dari keterangan laporan korban,β€œ tersangka MS melakukan aksi bejat terhadap anaknya ini dalam keadaan rumah lagi sepi bahkan sering juga dilakukannya pada siang hari. Korban Bunga juga menceritakan tersangka melakukan dengan cara membujuk serta memberikan iming-iming uang setiap akan melakukan persetubuhan, juga mengancam akan berhentikan sekolah dan kalau terjadi apa-apa jangan minta tolong ke ayah (tersangka) terang dalam pengakuan korban,” papar Husni. Selanjutnya,” perbuatan bejat pelaku tercium pihak kepolisian, setelah mendapatkan laporan dari korban Bunga (nama samaran) pada Rabu 10 Juli 2024 lalu dan pada hari selanjutnya Kamis 11 Juli 2024 sekitar pukul 15.00 WIB Unit IV PPA yang di-backup Unit Buser Sat Reskrim Polres Batanghari langsung mendapatkan informasi bahwa tersangka berada di Kelurahan Sridadi Kecamatan Muara Bulian,” ungkap AKP Husni. β€œ setelah itu Personil berhasil menemukan tersangka dan lakukan upaya paksa untuk dibawa ke Mapolres Batanghari guna untuk pemeriksaan lebih lanjut,” tandasnya. Menurut Opini penulis dari kejadian yang berkali-kali pada beberapa tahun belakangan ini angka kriminalitas kasus Tindak Pidana Persetubuhan dan Pencabulan sangat tinggi, maka bukan hanya peran Polri saja yang harus selalu aktif untuk memberikan edukasi kepada masyarakat, perlu juga peran penting dari Dinas Perempuan dan Perlindungan Anak serta peran para Alim Ulama agar bisa langsung mengatasi tindak kekerasan terhadap anak serta agar bisa menjaga hak-hak perempuan, ini adalah sebuah tantangan besar untuk kita semua demi untuk melindungi hak mereka. Dedi Ketua Satgas FRN (Fast Respon Nusantara)Tim Counter Opinion Polri di Kab.Batanghari, Sangat Ber Apresiasi terhadap Sat Reskrim Polres Batanghari,yang telah Banyak Mengungkap Kasus di wilayah Kabupaten Batanghari, Semoga Sat Reskrim Polres Batanghari Semakin jaya, Polri Presisi,Bravo Polres Batanghari,(tim)

BATANGHARI, Suararakyatnews.com, Sat Reskrim Polres Batanghari melaksanakan Press…

/* */