Menyikapi Keluhan Warga Atas Pelayanan Di RSUD Bangko, Bupati Sidak Pada Dini Hari

MERANGIN-Suararakyatnews.com,

Buruknya pelayanan di RSUD Abunjani bangko yang sering dikeluhkan pasien dan masyarakat kembali viral, setelah ada salah satu pasien meninggal dunia yang diduga diterlantarkan oleh pihak Rumah Sakit.

Direktur RSUD Abunjani Bangko Barman Saragih, mengadakan Konferensi Pers pada Senin (02/12/2019) dengan para awak media baik cetak, cetak dan elektronik di Ruang Aula Utama RSUD Abunjani Bangko.

Untuk diketahui, kurang maksimalnya pelayanan di RSUD hingga salah satu pasien meninggal dunia menjadi viral di Media Sosial (Medsos) di akun FB Atuk Sarahim di grup Facebook Kabar Merangin.

Meninggalnya pasien yang berasal dari SPH Hitam Ulu Kecamatan Tabir Selatan Kabupaten Merangin di duga akibat kelalaian pihak Rumah Sakit, karena dinilai tidak segera mendapatkan pelayanan dari pihak rumah sakit, hal ini mendapat penjelasan dari Berman Saragih dengan mengatakan tidak semuanya berita tersebut benar.

Menurutnya pasien tersebut saat dibawa ke rumah sakit langsung ditangani oleh dokter di IGD. Diakui memang ada satu dua orang pegawai yang masih perlu meningkatkan pelayanan.

Untuk polemik dan sorotan dari masyarakat, Berman Saragih mengaku selama 2 (dua) hari ini, tidak bisa tidur nyenyak, karena membahas dan memikirkan polemik yang sedang terjadi.

Untuk diketahui lanjutnya, “Pegawai di Rumah Sakit sebanyak 625 orang, masih dirasa kurang untuk melayani pasien secara optimal. Kita akui ada satu dua orang pegawai yang belum menjalankan tugasnya dengan baik,” jelasnya.

Berman juga mengakui, pelayanan di IGD dan pelayanan lainnya masih belum optimal. Untuk meningkatkan pelayanan agar optimal perlu membenahan disemua lini termasuk dengan perilaku orangya.

“Untuk menjawab persoalan yang terjadi kepada kawan-kawan wartawan, mengapa baru hari Senin, (2/12/2019) kita jelaskan, karena pegawai pada hari Minggu libur,” tegasnya.

Menurut ia, dirinya sudah memanggil Kepala ruangan, dokter spesialis, dokter IGD dan perawat ruang bedah dengan menegaskan kepada para dokter dan pegawai jangan ada rekayasa dengan persoalan ini, agar dijelaskan secara transparan dan jangan ada yang ditutup-tutupi.

Untuk infus menurut dokter yang menangani pasien tersebut dipasang bukan dari Puskesmas tetapi dilakukan saat pasien berada dirumah sakit.

“Infus dipasang di rumah sakit dan diberi obat untuk mengurangi anti nyeri sambil dilakukan observasi sambil melengkapi data rekam medis sebelum ditranfer ke ruang selanjutnya untuk mendapatkan perawatan lebih lanjut,” ujar dr. Surya.

Menurut dr.Surya, saat melakukan penangananan kepada pasien tidak ada pendarahan aktif, kalau ada sudah berceceran darah di ruang IGD.

Menjawab pertanyaan wartawan tentang penyebab kematian pasien dari sisi penilain medis, pasien meninggal dunia tidak dapat dipastikan secara pasti karena banyak kemungkinan penyebabnya dan harus dilakukan otopsi.

“Untuk penyebab kematian secara medis harus dilakukan otopsi,”jelas dr Sinta Spesialis Bedah

Menurutnya untuk faktor usia tua tidak bisa menjadi patokan bisa atau tidak pasien dilakukan pembedahan selama yang bersangkutan sebelum dilakulan operasi dinyatakan sehat rekam medisnya tidak ada kelainan.

“Kemungkinan pasien meninggal karena penyakit jantung yang dideritanya. Di Rumah Sakit belum ada doktes spesialis jantung dan peralatan secara memadai untuk melakukan penanganan,” katanya.

Diakhir konferensi pers, Berman Saragih akan melakukan pembenahan managemen pelayanan sesuai akreditasi yang ditetapkan. (PERI)

Advertisements
Advertisements

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.