Pemuda Asli Muratara Menjadi Lulusan Terbaik Universitas Andalas

MURATARA-Suararakyatnews.com,

Dulunya, Kabupaten Musi Rawas Utara (Muratara) lebih dikenal berkat banyaknya kejahatan yang seringkali terjadi di Bumi Beselang Serundingan. Stigma negatif ini harus direhabilitasi melalui prestasi pemerintah serta masyarakatnya. Pemuda harus menjadi lokomotif dalam proses transisi Muratara untuk menjadi daerah yang berprestasi.

Baru-baru ini, seorang pemuda bernama Debby Marcho Wijaya dinobatkan sebagai lulusan terbaik pada perayaan wisuda periode III di Universitas Andalas, Padang. Berita menggembirakan datang tatkala diketahui pemuda yang akrab disapa Marcho ini adalah pemuda asli Muratara, yang lahir di Surulangun, pada 3 Maret 1998 silam.

Marcho merupakan anak bungsu dari pasangan Sunarto dan Erliana.
Marcho yang semasa SMA dikenal sangat pendiam dan pemalu, bertransformasi menjadi pemuda inspiratif yang penuh prestasi ketika kuliah. Keberhasilannya untuk menjadi wisudawan terbaik Universitas Andalas didapati setelah Ia berhasil mendapatkan IPK 3,90 dan masa studi 3 tahun 11 bulan di jurusan Ilmu Politik.

Marcho dikenal memang memiliki budaya literasi yang baik, Ia sangat hobi untuk membaca dan diskusi, kebiasaan baik inilah yang menjadikan Marcho sebagai Mahasiswa aktif di kegiatan akademik ataupun non-akademik.

Sebelum berhasil mendapatkan penghargaan menjadi wisudawan terbaik Universitas Andalas, Marcho juga pernah menjadi juara 3 pada lomba debat mahasiswa nasional di Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, Jakarta. Pada pergelaran lomba tersebut, Marcho juga mampu menjadi 5 besar best speakers mengalahkan puluhan peserta lain yang ikut.

Selain itu, Marcho juga pernah menjadi semi-finalis pada lomba debat mahasiswa nasional di Universitas Andalas, dan menjadi peserta debat mahasiswa regional di Universitas Riau. Pengalaman untuk mengikuti kompetisi debat inilah yang membentuk Marcho menjadi pemuda yang kompetitif dan memiliki semangat belajar yang tinggi.

Di beberapa kesempatan, Marcho juga pernah tampil debat secara langsung pada acara Mimbar Mahasiswa di stasiun TV lokal, yaitu Padang TV. Selain menonjol di bidang debat, Marcho juga aktif di dunia aktivisme. Ia tercatat pernah mengikuti beberapa organisasi, diantaranya adalah Himpunan Mahasiswa Islam, Unit Kegiatan Mahasiswa Pengenalan Hukum dan Politik Universitas Andalas, Himpunan Mahasiswa Jurusan Ilmu Politik, Asosiasi Mahasiswa Asrama, dan Lingkar Mahasiswa Sumatera Selatan Universitas Andalas dan Politeknik Negeri Padang.

Tidak sekedar bergabung, di organisasi manapun ia ikut serta memberikan kontribusi terbaiknya bagi organisasi. Ia pernah beberapa kali menjadi koordinator umum pada demonstrasi mahasiswa dan pernah berhasil melalukan advokasi terhadap mahasiswa yang diancam tidak dapat melanjutkan kuliah lantaran masalah finansial.

Totalitasnya dalam berorganisasi, menghantarkan Marcho mendapatkan predikat ‘Aktivis Kampus’ oleh bidang Kemahasiswaan Universitas Andalas. Pengalaman lain yang Marcho miliki adalah menjadi perwakilan Universitas Andalas pada kegiatan Training of Trainner Gerakan Moral Sadar Demokrasi dan Kewarganegaraan yang diselenggarakan Universitas Indonesia, ikut Sekolah Anti Kekerasan yang diselenggarakan Komite Mahasiswa dan Pemuda Anti Kekerasan di Jakarta, Latihan Kader II Nasional di HMI Cabang Padang, menjadi surveyor di Spektrum Politika dan Cirus Surveyors Group, dan menjadi moderator pada seminar nasional yang pada kegiatan Pekan Politik V Universitas Andalas dengan salah satu bintang tamu adalah Rocky Gerung.

Selain itu, opini Marcho juga pernah diterbitkan di koran kampus dengan judul “Pemuda dan Sumpahnya”. Ketertarikannya terhadap dunia literasi, pernah coba ia tularkan kepada pemuda Muratara, dimana ia pernah membuka lapak baca gratis di depan SMP Negeri Surulangun. Kekayaan akan pengalaman tersebut menjadikan dirinya siap untuk selalu berkontribusi kepada masyarakat, bangsa dan negara. Ia mengharapkan bahwa pencapaian yang kini diraihnya, adalah gerbang bagi pemuda Muratara untuk senantiasa berprestasi kapanpun dan dimanapun.

Ia berpesan kepada pemuda Muratara untuk berani berprestasi, sekalipun jalur ini merupakan jalur pesakitan, karena bakalan banyak tantangan dan godaan. Tapi transformasi harus dibekali dengan visi agar tercipta konsistensi. Marcho telah berhasil menunjukkan bahwa lahir di kampung yang penuh keterbatasan fasilitas dan akses, tidak akan menghalangi kita untuk berprestasi. Marcho yang memiliki motto hidup “tidak akan ada hasil yang luar biasa dengan usaha yang biasa-biasa” ini mengatakan, jangan menjadikan kekurangan sebagai pembenaran atas kebodohan kita. Kita menjadi bodoh karena tidak mau untuk belajar.
Semoga cerita dan pengalaman Marcho mampu menjadi inspirasi bagi kita semua. Sumber Debby Marcho (Red)

Advertisements
Advertisements

Tinggalkan Balasan