Sabtu, November 28Suara Rakyat News
Shadow

Gaji Cuma 350 Ribu, Ibu Guru Nining Harus Rela Tinggal di Toilet

Page Visited: 77
0 0
Read Time:2 Minute, 4 Second

BANTEN-Suararakyatnews.com,

Ibu Nining, adalah seorang guru honorer di SD Negeri 3 Karya Buana, Kecamatan Cigeulis, Kabupaten Pandeglang, Provinsi Banten, ia dan suaminya terpaksa tinggal di toilet sekolah. Hal itu ia lakukan bersama suaminya lantaran tak memunyai uang untuk mengontrak rumah, apalagi membelinya.

“Setiap bulan, honorarium saya cuma Rp 350 ribu, itu pun dibayar per tiga bulan,” kata Nining saat ditemui di kediamannya, Senin (14/7/2019).

Keterbatasan Ekonomi membuat Ibu Guru Nining dan Suaminya yang hanya buruh serabutan juga menjual jajanan di sekolah yang sama. Ia membuka warung di toilet yang sudah disekat untuk dijadikan ruang tamu.

“Ya cukup tidak cukup, harus dicukupkan. Penghasilan saya hanya Rp 1,050 juta per tiga bulan. Itu habis untuk membiayai dua anak kami,” ungkapnya.

Anak pertamanya telah lulus SMA dan bekerja merantau di Jakarta. Sedangkan anak keduanya, masih mengenyam pendidikan pesantren di Yayasan Darul Ullum, Kecamatan Saketi, Kabupaten Pandeglang, Banten.

“(Anak) Dua, sekolah di MTs kelas dua yang kedua, yang pertama sudah lulus enggak dilanjutkan (kuliah). Anak harus sekolah terus, saya semangat (jadi guru honorer) untuk biaya sekolah (anak),” jelasnya.

Dapur rumah Ibu Guru yang berusia 44 tahun ini, gabung dengan toilet guru, siswa dan mushola. Sedangkan kamar tidurnya, tepat berada di samping toilet tersebut.

“Dua tahun saya tinggal di sini. Toilet gabung tempat masak. Kalau tidur di samping kamar mandi murid dan guru,” kata Nining.

Nining beserta suami membangun sendiri ruang kamar tidur, sekaligus ruang tamu dan warung jajanan anak SD. agar tidak merasakan bau pesing dan menyengat dari dalam kamar mandi, Nining dan Eby harus rajin-rajin membersihkan toilet. “Toilet enggak direnovasi, sudah lama. Mushola tempat Sholat guru, di sampingnya, saya meletakkan kompor. Enggak bau, saya bersihkan sendiri, tanggungjawab,” terangnya.

Sang suami, Eby, mengakui dia bersama istri mendapatkan izin untuk menempati toilet SDN Karya Buana 3, bahkan pihak sekolah membantu bahan bangunan untuk membangun kamar tidur dan warung yang juga dijadikan ruang tamu.

“Tempat tinggal bantuan keberpihakan kepala sekolah, cuma saya yang kerjakan (bangun) sendiri. Dapat izin (dari kepala sekolah),” kata Eby.

Nining sebenarnya pernah berkuliah di Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta) Serang, Banten, namun tidak dilanjutkan dan berhenti di semester empat, kemudian, dia melanjutkan pendidikan Strata Satu (S1) di Universitas Terbuka (UT) kelas jauh di Kecamatan Cibaliung. Nining mengejar gelar S1-nya dengan harapan bisa menjadi PNS.

“Empat tahun yang lalu istri saya lulus di UT Cibaliung. Ketika mengajukan (jadi) PNS, belum juga membuahkan hasil, karena menurut informasi ada persyaratan baru terkait usia. Di sana, istri saya mulai putus asa,” kata Eby. (*Red)

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleppy
Sleppy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %
Advertisements
Advertisements

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: