MAUMERE-Suararakyatnews.com,

Pemerintah Kabupaten Sikka melalui Dinas Kesehatan berhasil menurunkan jumlah angka penderita stunting. Penurunan angka stunting itu berkat kerja sama antara Dinas Kesehatan Kabupaten Sikka bersama pemerintah desa, kelurahan, dan kecamatan.
Berdasarkan data yang diperoleh Suararakyatnews.com, dari Dinas Kesehatan Kabupaten Sikka, jumlah penderita stunting desa dan kecamatan menurun dibandingkan tahun 2018 lalu.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sikka, Petrus Herlemus menjelaskan bahwa pada tahun 2018, 25 puskesmas yang ada di Kabupaten Sikka rata-rata memiliki anak penderita stunting. Angka stunting cenderung menurun sejak tahun 2019. Namun ada beberapa kecamatan yang angkanya mengalamani fluktuasi.
“Angka penderita stunting di setiap kecamatan dan desa berhasil diturunkan walaupun masih terdapat beberapa kecamatan yang angkanya masih naik turun,” ungkap Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sikka, Petrus Herlemus saat ditemui diruang kerjanya di Jalan El Tari Maumere, Jumat (27/8/2021).
Petrus Herlemus pada kesempatan itu juga memaparkan, pada tahun 2018 sebanyak 5.805 anak penderita stunting atau 36 persen dan tahun 2019 turun menjadi 25,1 persen atau tersisa 4.164 anak. Tahun 2020, turun menjadi 19,6 persen atau tersisa 4.010 anak dan pada Februari 2021 turun menjadi 18,9 %.
Dikatakan, angka stunting berhasil ditekan berkat program yang digunakan yaitu Metode Colombia yang diuji coba pada tahun 2020 di lepo stunting. Pihaknya mengaku telah melakukan sinkronisasi program kegiatan dengan melakukan intervensi pada daerah yang terdata stunting.
“Memang ditengah pandemi COVID-19 dalam mengatasi Stunting dan untuk menghindari kerumunan kita serahkan penanganan stunting semua ke puskesmas, desa, dan kecamatan,” ungkapnya.
Petrus Herlemus menyebutkan, Dinas Kesehatan melakukan advokasi ke Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (PMD) untuk mengalokasikan dana desa untuk mengatasi masalah stunting tersebut.
“Dinas Kesehatan melakukan advokasi ke Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (PMD) untuk bisa mengalokasikan dana desa untuk mengatasi stunting. Kita juga mengadakan rembug stunting ke tingkat kecamatan untuk mempertegas kembali bagaimana komitmen camat dan kepala desa dalam keseriusanya menekan angka stunting di daerahnya,” tuturnya.
Dalam menangani masalah stunting, kata Petrus Herlemus, Dinas Kesehatan Kabupaten Sikka memberikan kompensasi menu seimbang yang dirancang di Lepo (rumah) stunting dengan dominasi menunya adalah telur ayam kampung.
“Asupan menu telur ayam kampung jauh lebih baik, termasuk protein penunjang seperti daging ayam kampung, ikan dan daging lainnya,” tuturnya.
Sementara itu, Kepala desa Wolomapa, Marianus Moa yang diwawancara terpisah mengatakan apalah gunanya. pemerintah desa mempunyai banyak uang tapi sumber daya manusianya menurun karena mengalami kekurangan gizi.
Marianus mengaku, untuk penanganan stunting tahun 2021, hasil pengukuran terbaru ada penambahan lima anak. Dan hingga saat ini pemerintah desa pun belum mengetahui apa masalahnya.
“Penanganan Stunting di desa kami pada tahun 2021 untuk 13 anak sehingga saat ini kami belum berbangga. Masih ada delapan anak sisa dari penanganan tahun 2020 yang mengalami Stunting,” ujarnya.
Marianus menyebutkan, selain masalah stunting, masalah ketersedian air bersih juga menjadi salah satu kendala dalam menangani masalah stunting di desanya. Selama ini, warga Desa Wolomapa dan warga se-Kecamatan Hewokloang hanya mengandalkan air tadah hujan.
“Sebagai pemerintah desa saya menyarankan perlu ada penanganan secara menyeluruh bukan saja pemberian makanan tambahan tapi bisa juga masalah air bersih dan ketersedian MCK serta masalah lainnya,” ucapnya.
Pemerintah desa telah membangun bak Penampung Air Hujan (PAH) dan air dikonsumsi warga untuk jangka waktu lama. Diakuinya, belum ada penelitian mengenai air hujan tersebut, apakah air tersebut sehat atau tidak untuk dikonsumsi dan apakah ada pengaruhnya atau tidak terhadap kesehatan anak.
“Menjadi desa locus stunting kami mengharapkan Pemda Sikka melalui Dinas Kesehatan untuk turun langsung melakukan penelitian dan mencari solusi untuk penangananya,” ujarnya. (Chois Bhaga)












