MAUMERE-Suararakyatnews.com,
Kelompok petani milenial “Moeda Tani Farm” di Kabupaten Sikka, Flores NTT sudah mulai menerapkan teknologi yang lebih canggi lagi.Sistem teknologi yang digunakan adalah “Smart Farming Drip Irigation System” yang mempunyai kelebihan dengan teknologi yang diterapkan sebelumnya. Kepada Suararakyatnewa.com, Direktur PT. AGROMAR INDONESIA dan juga juru bicara kelompok Moeda Tani Farm, Yance Maring menjelaskan soal keunggulan atau kelebihan dari teknologi ini.“Ini kita dalam kelompok ini, telah menggunakan teknologi dengan nama “Smart Farming Drip Irigation System” yang didukung penuh oleh Bank Indonesia (BI). Dengan sistem teknologi terbaru yaitu ada semua fungsi yang mampu mengendalikan pengairan secara otomatis”, jelasnya.Lebih lanjut ia menggambarkan, bahwa ada banyak komponen-komponen dalam teknologi itu yang mempermuda dalam mengakses data-data terkait tanaman horti, kondisi air dan tanah.“Ada banyak komponen seperti ada sensor PH, sensor kelembapan tanah, kelembapan suhu, water flow, water level, TDS (alat pengukuran PPM tanah, perkiraan cuaca, kemudian dari data-data itu akan dilock atau dikunci secara real time, kemudian data-data itu kita akan download dan kita akan jadikan sebagai besik data untuk evaluasi. Sehingga semua data-data itu dapat kita kontrol lagi dan kita ambil lagi, karena itu diakses setiap saat. Kemudian dari sensor-sensor yang ada juga kita bisa memberikan notivikasi untuk pemenuhan kebutuhan unsur hara, air dan itu dilakukan secara otomatis. Sedangkan yang sistem lama itu semua komponen ada, tetapi kita tidak bisa mengkases datanya atau mendwonloadnya,” tambahnya.Terkait lahan hortikultura dengan komponen canggih yang diterapkan oleh kelompok Moeda Tani Farm. Mereka mengontraknya selama lima (5) tahun. Lahan itu adalah milik Pemda Sikka sebesar lima hektar dengan sistem pembayaran bagi hasil untuk meningkatkan PAD Kabupaten Sikka.“Lahan ini kita kontrak selama lima tahun. Dengan sistem bagi hasil, nah untuk Pemda kita siap alokasikan ke PAD dan per-hektarnya 5 jutah pertahunnya. Untuk sementara itu kita coba kenakan 10% dari labah bersih. Soalnya kita pernah diskusi dengan pihak terkait bisa kisaran 10-20% setiap kali musim tanam, karena itu kita belum tanda tangan MOU,” kata Yance Maring. (Chois Bhaga).